Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma-Sambuddhasa
Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma-Sambuddhasa
Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma-Sambuddhasa
Kepada siapa kita berdoa?
Umat Buddha berdoa kepada Buddha sebagai manifestasi Tuhan.
Mengkomunikasikan isi hati, apakah itu berupa pujian, perasaan syukur, pengharapan, pernyataan tekad, perenungan, dan sebagainya. Bisa juga bersyukur kepada Boddhisatta, deva, dan leluhur, siapa saja yang dipandang berhubungan dengan aspirasi yang ingin diungkapkan.
Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma-Sambuddhasa
Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma-Sambuddhasa
Kepada siapa kita berdoa?
Umat Buddha berdoa kepada Buddha sebagai manifestasi Tuhan.
Mengkomunikasikan isi hati, apakah itu berupa pujian, perasaan syukur, pengharapan, pernyataan tekad, perenungan, dan sebagainya. Bisa juga bersyukur kepada Boddhisatta, deva, dan leluhur, siapa saja yang dipandang berhubungan dengan aspirasi yang ingin diungkapkan.
Tentu saja, doa itu tidak dimaksudkan mengubah Tuhan,
Buddha atau Boddhisatta agar memenuhi keinginan kita. Doa justru mengubah diri
sendiri. Doa bukan meminta, apalagi menuntut. Doa yang baik malah menyatakan
kesediaan menerima apa yag akan terjadi (bersyukur) atau kesediaan berbagi dan
memberi. Dalam doa, kita bukan merayu, tetapi mengungkapkan kesadaraan.
Untuk siapa kita berdoa? Ketika berdoa ditujukan untuk kepentingan diri sendiri, ingat akan akan kesaling tergantungan dan semua makluk memiliki keinginan yang sama. Bukan hanya aku yang menghendaki kebahagiaan untuk diri sendiri, melainkan juga semua makluk. Karena itu kita berdoa untuk kepentingan sendiri sekaligus kepentingan orang lain. Bahkan untuk kebahagiaan yang menyakiti kita. Mendoakan semua makluk berbahagia juga mendoakan diri sendiri
Doa bukan sekadar kata-kata verbal. Sesungguhnya doa itu merefleksikan pemikiran.
Pemikiran yang benar mengandungtiga aspek, yaitu:
1.
Tdk
berdasarkan egoisme dan dorongan nafsu keduniawian dan bersifat merendah
2.
Mengungkapkan
cinta kasih, bukan itikad buruk
3.
Mengandung
belas kasih, bukan perasaan kejam.
Pemikiran difokuskan secara sadar. Tanpa memikiran apa yang diucapkan Cuma hafalan kosong. Agar doa kita menjadi efektif setelaj dibaca dengan mulut atau dalam hati, doa harus dibangkitkan di dalam kesadaran melalui pemaduan psikofisikdan konsentrai (meditasi) yang mendalam.
Kekuatan doa itu tergantung pada keyakinan dan pemikiran yang benar. Kita harus yakin bahwa doa kita itu adalah sesuatu yang benar dan bermanfaat, dan berdasarkan keyakinan tersebut akan kuat untuk berusaha mewujudkannya.
Tanpa pemikiran benar, doa bisa menjadi kutukan. Misalnya: mendoakan celaka menimpa orang yang tidak sepaham, mendoakan musuh binasa, mendiakan saingan rugi, atau mendoakan lawan.
Sering kita melihat orang berdoa dengan merayu, hingga dengan nada
memerintah. Ada yang berdoa diawali puja-puji lalu diikuti dengan tuntutan. Bahkan
ada yang lebih aneh lagi, banyak yang diakhiri dengan janji-janji atau seperti
tawar-menawarbahkan menyuap.
Dalam pandangan Buddhis, Buddha bukanlah makluk pengabul harapan. Buddha memang mahatahu, tetapi Buddha bukanlah mahakuasa menentukan nasib kita sendiri. Nasib ada di tangan masing-masing yang kita bentuk sendiri melalui perbuatan baik dan buruk. Jadi, salah besar jika kita menggantungkan pengharapan dan nasib kita pada Buddha.
TEKAD BODDHICITTA _/|\_
Aku bertekad menjadi obat bagi yang sakit,
Aku bertekad menjadi makanan bagi yang kelaparan,
Aku bertekad menjadi pelindung bagi yang takut,
Aku bertekad menjadi suaka bagi yang dalam bahaya,
Aku bertekad menjadi embun bagi yang murka,
Aku bertekad menjadi pemandu bagi yang tersesat,
Aku bertekad menjadi bahtera bagi yang menyebrang,
Aku bertekad menjadi pelita bagi yang dalam gulita.
Kita bisa berdoa sendiri,bisa juga melakukan bersama-sama. Doa dilakukan
dengan sikap apa saja. Secara formal, paling sering duduk dan berdiri, atau
berjalan dengan mengatupkan kedua
telapak tangan setinggi dada atau di atasnya (anjali). Bisa juga dalam posisi
meditasi, kedua telapak tangan terbuka keatas bertumpu setinggi perut bawah.
Kalau berdoa pada saat bekerja, tentu sikapnya sesuai dengan posisi bekerha.
Sedangkan orang sakit, boleh berdoa dalam sikap rebah. Tidak ada keharusan
memakai dupa atau segala macam sesajian lain.
Kapan kita berdoa? Sebenarnya, tidak ada waktu khusus untuk berdoa, kita
bisa berdoa kapan saja dan dimana saja. Misalnya, saat bangun tidur, kita
berdoa sebagai ungkapan syukur karena masih bisa bangun dan kita berdoa agar
bisa mengisi hari dengan kegiatan bermakna, atau saat memulai suatu kegiatan,
kita berdoa agar bersemangat dan mempunyai keteguhan dalam berusaha. Jadi,
berdoa tidak hanya dilakukan saat berada di depan altar saja.
diketik langsung oleh saya dari buku Agama Buddha penerbit Ehipassiko.
diketik langsung oleh saya dari buku Agama Buddha penerbit Ehipassiko.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar